1. Ketika Anda melihat kembali ke bisikan paling awal yang memanggil Anda ke arah roh, saat atau usia berapa yang pertama kali menyalakan api di dalam diri Anda?
Ida: Ketika kebosanan membuat saya menjadi seorang pemuda yang nakal, sekitar usia 20 tahun. Sebelum itu, saya sangat menikmati menjelajahi pengetahuan kawisesan (kebijaksanaan mistis).
2. Bagaimana pintu suci jalan Bhaerawa pertama kali terbuka untuk Anda, dan kapan Anda melangkah masuk?
Ida : Berawal dari mimpi makan nasi bercampur darah.
3. Perjalanan Anda dengan Ida Istri tampaknya terjalin dalam pengabdian dan tujuan. Bisakah Anda berbagi cerita tentang perjalanan Anda bersama dengan penuh semangat?
Ida :Perjalanan spiritual harus seimbang antara suami dan istri. Keduanya harus saling melengkapi dan mendukung satu sama lain untuk pertumbuhan spiritual. Tidak boleh dilakukan sendiri-sendiri, karena akan berdampak negatif pada keseimbangan energi.
4. Visi apa yang ada di dalam Yayasan yang Anda dirikan, dan tujuan apa yang Anda harapkan untuk dilayani?
Ida : Melayani dan melayani masyarakat. Karena ketika seseorang melayani ciptaan Tuhan, itu berarti dia sudah melayani Tuhan.
5. Nama Bhaerawa sering kali menimbulkan rasa takut bagi mereka yang tidak mengerti. Menurut Anda, mengapa bayangan ini ada di sekitarnya?
Ida : Ada upaya pembunuhan karakter yang disengaja, membentuk opini publik untuk menyatakan bahwa ajaran Bhaerawa sesat dan berkonotasi negatif.
6. Selama upacara, rambut Anda terkadang tergerai bebas alih-alih diikat - apa makna yang tersembunyi di balik gerakan ini?
Ida: Dalam peraturan pendeta Buddha di Bali, ada tiga aturan tentang rambut:
A. Dapat dipotong sebahu, disebut ANGARAS BAHU atau SIPAT AKING.
B. Dapat dicukur sampai botak total, disebut AMUNDI.C. Boleh dipakai panjang dan longgar, tidak diikat, disebut ANGORE.
7. Melukat disebut-sebut sebagai pembersihan yang sakral - mengapa sangat penting untuk menerimanya secara teratur?
Ida : Salah satu cara untuk membersihkan diri adalah dengan melukat. Melukat bisa dilakukan dengan mandi di sumber mata air, atau di Griya, Pasraman, atau Padukuhan. Harapannya setelah melukat, pikiran, jiwa, dan raga menjadi tenang.
8. Ketika Anda dan Ida Istri memandu melukat, Anda mengundang keluarga untuk memohon maaf kepada orang tua mereka. Mengapa tindakan ini sangat penting, dan bagaimana hal ini membentuk perjalanan hati?
Ida: Ini juga salah satu cara saya untuk menghapus karma buruk yang telah kita perbuat. Kesalahan atau dosa tidak dapat dihapus hanya dengan doa saja, atau dengan sumpah/keta, atau dengan meditasi, atau dengan puasa. Kesalahan atau dosa hanya dapat dihapus dengan kesadaran untuk meminta maaf dengan tulus kepada siapa pun yang telah kita rugikan dan siap untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik.
9. Dapatkah Anda membagikan sebuah momen di mana Anda menyaksikan pengampunan mengubah jiwa dan mengubah jalan hidup?
Ida: Sebuah perubahan pasti akan terjadi jika dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan kemauan untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
10. Upacara-upacara yang Anda pimpin dihiasi dengan benda-benda suci, beberapa di antaranya Anda buat sendiri. Dapatkah Anda memberi tahu kami tentang kekuatan mereka, dan bagaimana mereka dilahirkan?
Ida: Mereka (benda-benda sakral) diciptakan atas dasar kesadaran, kebaikan, rasa kemanusiaan untuk menolong orang lain, dan keyakinan.
11. Sebagai seorang pedanda, hari-hari Anda dipenuhi dengan ritual, mengajar, dan merawat para siswa. Bagaimana Anda mempertahankan ritme seperti itu, dan apa yang menopang pengabdian Anda?
Ida: Pekerjaan saya hanya didukung oleh kesadaran untuk melayani dan melayani masyarakat.
12. Dalam menghadapi kesalahpahaman dan perlawanan, api batin apa yang mendorong Anda untuk terus membawa kebijaksanaan Bhaerawa ke dalam cahaya?
Ida: Hidup di era modern tentu saja memiliki banyak ritme kehidupan. Saya tidak bisa menyenangkan semua orang karena kemampuan saya terbatas. Tidak peduli seberapa baik saya melayani dan melayani, akan selalu ada beberapa orang yang tidak puas dengan apa yang saya lakukan. Yang terpenting adalah saya selalu berusaha untuk melayani dan melayani dengan cara yang terbaik.
13. Di mata Anda, bagaimana gelombang besar emosi manusia bergerak melalui kehidupan - kemarahan, kecemburuan, kesedihan, ketidakberdayaan, sukacita, perlawanan, kemalasan, kabut penyalahan?
Ida: Sudah menjadi hukum alam bahwa kehidupan manusia disertai dengan perasaan-perasaan seperti marah, cemburu, iri hati, dendam, perselisihan, menyalahkan orang lain, dan juga kebaikan dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, kita harus selalu sadar akan hal ini.
14. Bagaimana perasaan-perasaan ini mengukir garis-garis karma?
Ida: Karma bagi mereka yang masih hidup adalah mewariskan kebiasaan kepada generasi berikutnya. Misalnya: jika orang tua mendidik anak dengan cara membentak atau menggunakan kekerasan, bahkan sampai memukul, maka karakter anak biasanya akan menjadi sekeras orang tuanya. Namun jika anak menjadi sadar bahwa pendidikan yang keras itu tidak baik, dan ketika mereka sudah berkeluarga mereka memilih untuk mendidik anak-anak mereka dengan cinta kasih dan kedamaian hati, hal ini tentu akan memutus warisan karma negatif dari orang tua mereka dan sebaliknya mewariskan cinta kasih kepada generasi berikutnya.
15. Apakah benar-benar mungkin bagi jiwa untuk membentuk kembali atau membersihkan karmanya?
Ida: Sangat mungkin, asalkan dibangkitkan dengan kesadaran.
16. Di zaman di mana angin asing, suara-suara digital, dan budaya luar menyentuh generasi muda Bali, tugas suci apa yang mereka emban untuk menjaga garis keturunan nenek moyang mereka tetap hidup?
Ida : Mendidik mereka dengan kesadaran bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan dan menebarkan cinta kasih.
17. Apakah kebenaran spiritualitas yang paling rapuh yang sering disalahpahami?
Ida: Menerima "kebenaran" hanya dari mendengar cerita tanpa berusaha memahami atau merasakan esensinya.
18. Bagaimana Anda melihat waktu - dan mengapa ritme yang stabil dari latihan spiritual sangat penting?
Ida: Kesuksesan hanya bisa diraih dengan tekad, semangat, keberanian, dan ketekunan. Tanpa itu semua, akan sangat sulit untuk mewujudkan impian spiritual.
19. Anda dikenal karena tidak mengikat siapa pun dengan beban masa lalu mereka, tetapi membimbing mereka menuju jalan ke depan. Kebijaksanaan apa yang membentuk cara pandang ini?
Ida: Masa lalu adalah masa yang sudah berlalu, dan tidak mungkin kembali untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang baik. Oleh karena itu, yang terbaik adalah meninggalkan masa lalu dan menjadi pribadi baru yang penuh dengan kebaikan.
20. Bagi orang yang berdiri di tepi jalan Bhaerawa, gemetar ketakutan, langkah pertama apa yang dapat mereka ambil menuju keberanian?
Ida: Jalan Bhaerawa mengajarkan untuk mengatasi rasa takut melalui keberanian. Sebagai contoh, ketika kita takut akan kegelapan, mulailah belajar di dalam kegelapan. Duduklah dengan tenang, dan setelah tenang, tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang saya takutkan dalam kegelapan ini?" Rasakan semua sensasi pada saat itu. Jangan paksakan diri Anda untuk duduk terlalu lama pada awalnya - mulailah dengan hanya 10 menit, dan lanjutkan secara teratur sambil secara bertahap meningkatkan kualitas dan lamanya waktu.
21. Mengapa Anda terkadang memimpin meditasi di keheningan malam - atau bahkan di tengah kesunyian kuburan?
Ida: Seperti jawaban di atas, belajarlah untuk berani menghadapi keheningan dengan penuh kesadaran.
22. Bagaimana anda mengetahui kapan seorang pencari Tuhan YME benar-benar siap untuk menempuh jalan Bhaerawa?
Ida: Dengan mengamati tindakan, perilaku, dan karakter mereka.
23. Untuk seseorang yang tertarik pada jalan ini namun terikat oleh keraguan, kata-kata apa yang akan Anda tawarkan untuk membuka hati mereka?
Ida: Buatlah mereka sadar bahwa jalan Bhaerawa tidak menjanjikan kesenangan duniawi.
24. Anda dan Ida Istri sering terlihat memeluk anak-anak dengan kehangatan dan kelembutan. Apa peran anak muda dalam masa depan spiritual Bali?
Ida: Untuk selalu menyebarkan cinta.
25. Bagi mereka yang jauh dari kuil namun dekat dengan kerinduan, bisakah Anda berbagi meditasi sederhana yang dapat mereka mulai di rumah - sebuah pintu menuju keheningan mereka sendiri?
Ida: Hormati tubuh, cintai tubuh - karena tubuh adalah kuil, tempat yang suci. Setelah Anda dapat menghormati dan mencintai tubuh Anda sendiri, carilah Bhaerawa di dalam diri Anda.
26. Tengkorak sering muncul dalam penglihatan dan gambar yang Anda bagikan, Ida. Dapatkah Anda berbicara tentang arus yang lebih dalam yang dibawanya - kebenaran atau misteri apa yang dipegang oleh simbol ini?"
Ida :Tengkorak adalah simbol yang merepresentasikan penghancuran ilusi, penaklukan ego, dan pemberantasan rasa takut.