Belanja

Sunyi di Antara Tulang Di mana malam tak mengenal nama, bayang-bayang bergerak tanpa tubuh, angin menggesek tulang yang bicara tanpa lidah, tanpa kata, hanya isyarat yang menggigil di ujung jemari waktu. Ada jejak kaki menuju altar tanpa doa- daun-daun kering berdesah seperti napas yang disembunyikan di balik kulit bumi yang telah lama kehilangan warna. Seseorang duduk di sana, tak berwajah, tak berbatas, rambutnya panjang melilit angin, menyulam rahasia di antara detak jantung terakhir dan gema langkah pertama. Ia berbicara pada tulang, mendengar nyanyian sunya di antara debu-debu yang jatuh pelan ke dalam kegelapan yang tak pernah selesai. Barangkali, di sanalah cahaya kehilangan makna, dan suara hanyalah bayang keheningan yang berjalan pulang tanpa pernah tiba. IDA DUKUH CELAGI

© 2025. Semua Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Bhaerawa.com