Jejak, Nafas, dan Arus Hening Nusantara
Bhaerawa Nusantara bukan hanya sebuah gelar-ia adalah arus semangat, angin purba yang muncul dari rahim gunung berapi, pasang surut air laut, dan langit tanpa batas di kepulauan Indonesia.
Ia berbicara dalam bahasa nenek moyang-Kawi, Jawa Kuno, Bali Kuno, dan dialek-dialek rahasia dari setiap pulau-bergerak melalui arsitektur ritual yang lahir dari tubuh tanah itu sendiri.
Di sini, dunia bukanlah sebuah objek melainkan sebuah mandala yang hidup. Gunung berapi berdiri sebagai singgasana api, lautan sebagai cermin ketidakterbatasan, hutan sebagai kuil terselubung, dan tanah kremasi (setra) sebagai ambang batas di mana bentuk larut.
Jalan ini adalah seni melarutkan diri-bukan dalam kepasifan, tetapi melalui disiplin yang berani yang melucuti ilusi dari tulang-tulang yang ditenun dari nafas leluhur, hanya dihiasi dengan unsur-unsur yang dipilih dalam kebijaksanaan, dan tidak pernah tunduk pada kekuasaan asing.
Bhaerawa Nusantara bukanlah gema dari lagu orang lain-ini adalah lagu asli negeri ini, berakar di tanahnya, diucapkan dalam bahasanya, dan berdenyut dalam ingatannya.
Budaya - Ini adalah sebuah visi yang telah lama tersembunyi di balik nama-nama yang dipinjam.
Sejarah - Mengingatkan kita pada benang merah yang tak terputus dari masa pra-Hindu-Buddha, hingga Majapahit tenun emas, hingga napas ini.
Epistemik - Menghormati cara-cara mengetahui yang lahir bukan di ruang kuliah, melainkan di daun lontar, tembang-tembang suci (kidung), dan berbisik tutur.
Meskipun namanya "Bhaerawa" menemukan sepupu jauhnya di tanah Gangga, di sini ia minum dari sungai-sungai Nusantara. Ia tumbuh dari setrapegunungan, tepi samudera, dan dari otoritas desa adatyang pedukuhandan banjar.
Ontologi - Terang dan gelap, kelahiran dan pembubaran, sakral dan profan-satu arus, satu samudra.
Epistemologi - Pengetahuan yang diperoleh melalui laku (disiplin, retret, meditasi), bahasa suci (mantra, kidung), dan tubuh sebagai altar (nafas, mudra, nyasa).
Aksiologi - Tujuannya bukan tampilan, juga bukan sekadar kesaktiantetapi pembebasan dari diri sendiri dan kecenderungan harmoni kosmik.
Sebelum bayang-bayang kekaisaran, gunung, pohon, dan mata air adalah tempat tinggal api leluhur. Air dibersihkan, api dimurnikan, tulang-tulang diingatkan.
Angin Hindu dan Buddha membawa bentuk-bentuk baru, tetapi pulau-pulau tersebut menenunnya menjadi alat tenun mereka sendiri-pegunungan yang sejajar dengan mandala, mantra-mantra yang direndam dalam bahasa Kawi, dewa-dewi yang berjubah tanah setempat.
Majapahit memahkotainya dengan emas; malam kolonial menguburnya di bawah tanah; fajar modern membangkitkannya kembali sebagai penjaga keseimbangan di dunia yang bergejolak.
Cara ini mengajarkan untuk tidak membunuh rasa takut, tetapi melewatinya hingga melebur menjadi sunya.
Kematian, kehilangan, dan ketidakpastian tidak lagi menjadi teror, tetapi menjadi teman yang tenang, jujur, dan berpikiran jernih.
Mereka bukanlah dua pantai, tetapi gelombang yang sama, menghirup dan menghembuskan keabadian.
Ia tidak memanggil banyak orang-hanya mereka yang bersedia membuang peta dan berjalan dipandu oleh kompas keheningan. Bagi orang seperti itu, malam menjadi guru, angin menjadi kitab suci, dan diri sendiri menjadi nama yang terlupakan.
|
|