Bagi mereka yang baru memulai perjalanan spiritual, salah satu metode yang paling sederhana dan efektif adalah penghitungan nafas. Dalam latihan ini, nafas dilatih dengan menggunakan usia sendiri sebagai ukuran penghitungan. Sebagai contoh, jika kita berusia lima puluh tahun, kita menghembuskan napas sambil menghitung dalam hati "satu", menarik napas dan menghitung "dua", dan melanjutkannya hingga mencapai lima puluh. Setelah jumlahnya selesai, kita kembali lagi ke angka satu. Dengan cara ini, ritme napas kita menjadi terkait erat dengan ritme kehidupan kita. Hal ini jauh lebih mudah daripada mencoba menghitung tanpa henti sampai seratus atau lebih, yang sering kali menyebabkan kebingungan atau gangguan.
Namun, menghitung saja tidak cukup. Apa yang benar-benar memberikan kekuatan pada latihan ini adalah penyatuan nafas dan cahaya. Kita diminta untuk memvisualisasikan cahaya yang hidup dari alam semesta di hadapan kita. Jika pengabdian kita diarahkan kepada Siwa, kita dapat membayangkan Dia berdiri di depan kita, menghembuskan cahaya putih murni yang kita tarik ke dalam diri kita dengan setiap tarikan napas. Kemudian, saat kita menghembuskan napas, kita melepaskan asap hitam - ketidakmurnian, ketakutan, dan kegelapan di dalam diri kita - ke arah Siwa. Dia menghirupnya, tak tersentuh dan tak tercemar, karena Dia adalah kekuatan bercahaya abadi dari alam semesta. Di dalam hati-Nya, asap kegelapan kita diubah menjadi cahaya.
Melalui latihan yang mantap, siklus cahaya dan asap ini mengubah diri kita. Dengan setiap tarikan napas, kita dimurnikan, perlahan-lahan menjadi makhluk yang bercahaya. Proses ini disebut "Kembali ke Sumber Cahaya". Ketika cahaya Siwa memenuhi diri kita, dan ketidakmurnian kita diserap dan dilarutkan di dalam Dia, kita semakin dekat dengan kesatuan dengan Ilahi.
Untuk pemula, latihan menghitung napas sambil memvisualisasikan cahaya adalah fondasinya. Dalam silsilah ini, terdapat latihan-latihan lebih lanjut, seperti Sembilan Langkah Pernapasan, yang memperdalam hubungan antara angka, napas, dan cahaya.
Jalan pengembangan spiritual adalah seperti sebuah sekolah yang hebat. Seseorang memulai dengan pelajaran yang paling sederhana dan maju selangkah demi selangkah-melalui latihan-latihan lahiriah (bahir sadhana), latihan-latihan batiniah (antar sadhana), latihan-latihan rahasia (rahasya sadhana), dan akhirnya, tingkat yang paling tersembunyi dan suci.
Tujuan dari semua metode adalah sama: untuk mengubah kesadaran manusia biasa menjadi kesadaran makhluk suci yang bercahaya. Hal ini membutuhkan ketekunan dan ketulusan. Seorang siswa tidak dapat terbangun hanya dengan berbicara tentang kesadaran - kebangkitan hanya datang melalui meditasi, latihan nafas, visualisasi, dan disiplin. Dengan menjalani latihan, kesadaran pencari Tuhan YME akan berkembang, hingga apa yang tadinya manusiawi menjadi bercahaya.
Ini adalah jalan dari kegelapan menuju cahaya.
Inilah cara seseorang menjadi tercerahkan.
Ong Bhaerawa ya Namah