Sunyi di Antara Tulang
Di mana malam tak mengenal nama,
bayang-bayang bergerak tanpa tubuh,
angin menggesek tulang yang bicara
tanpa lidah, tanpa kata,
hanya isyarat yang menggigil
di ujung jemari waktu.
Ada jejak kaki
menuju altar tanpa doa—
daun-daun kering berdesah
seperti napas yang disembunyikan
di balik kulit bumi
yang telah lama kehilangan warna.
Seseorang duduk di sana,
tak berwajah, tak berbatas,
rambutnya panjang melilit angin,
menyulam rahasia
antara denyut jantung terakhir
dan gema langkah pertama.
Ia berbicara pada tulang,
mendengar nyanyian sunya
di antara debu yang jatuh pelan
ke dalam kegelapan
yang tak pernah selesai.
Barangkali, di sanalah
cahaya kehilangan makna,
dan suara hanyalah
bayang keheningan
yang berjalan pulang
tanpa pernah tiba.
IDA DUKUH CELAGI